Langsung ke konten utama

Mewaspadai Tumbuh Kembang Anak (Bagian 1)


Buah hati merupakan mutiara kehidupan bagi para orang tua. Banyak cita dan harapan kelak anak mereka akan menjadi orang yang sukses. Tantangan membesarkan anak hadir dari berbagai aspek, maka Parenting skill dan pengetahuan yang baik tentang anak diperlukan oleh baik ibu atau ayah dalam merawat anak mereka. Salah satu pengetahuan yang perlu diketahui untuk menunjang proses asuh anak yaitu tentang tumbuh kembang anak. 

Sedikit bercerita, Saat ini penulis sedang bekerja di klinik yang khusus menangani tumbuh kembang anak. Entah kenapa, beberapa tahun terakhir semakin banyak ditemukan layanan yang menyediakan jasa pemeriksaan dan terapi untuk anak terutama di kota-kota besar. Dari sudut pandang penulis, fenomena ini selain sebagai trend baru dalam bisnis jasa pelayanan kesehatan, juga merupakan efek dari meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat, yang menyebabkan tingkat kesadaran terhadap kesehatan anak meningkat. 

Penulis ingat beberapa tahun yang lalu semasa masih jadi mahasiswa sempat berdiskusi dengan  seorang teman yang merupakan seorang mahasiswa kedokteran. Topik yang dibicarakan saat itu "kenapa sekarang sepertinya lebih banyak dijumpai kasus anak berkebutuhan khusus?". kesimpulan dari hasil diskusi waktu itu penulis akan buat artikel tersendiri supaya topik utama di artikel yang sekarang tidak melenceng.

Baiklah kita akan lanjut ke topik yang sebenarnya :)

Tumbuh Kembang merujuk pada setiap proses normal yang terjadi sejak konsepsi hingga individu tersebut mencapai usia dewasa. Tumbuh kembang sendiri terdiri dari dua aspek yang perlu dibedakan namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tumbuh adalah setiap pertambahan ukuran yang dapat diukur menggunakan alat ukur tertetu, dan menggunakan satuan tertentu. Sesuatu yang diukur dari aspek tumbuh misalnya berat, volume atau panjang anggota tubuh. Kembang adalah setiap perubahan suatu fungsi kearah yang lebih fungsional, aspek kembang mengacu pada parameter kualitas dari suatu anggota atau struktur tubuh untuk digunakan.

Area pertumbuhan seperti disinggung sebelumnya merupakan segala sesuatu yang sifatnya terukur dengan satuan ukuran yang sudah disepakati di seluruh dunia, satuan ukuran yang dimaksud misalnya gram untuk mengukur berat dan cm untuk mengukur panjang. Aspek kembang atau selanjutnya disebut dengan perkembangan di subkategorikan menjadi 5 area perkembangan; Motorik Kasar, Interaksi Sosial, Berbahasa, Motorik Halus dan Kognitif. Rujukan yang dapat digunakan untuk menilai setiap area perkembangan adalah milestone tumbuh kembang.

Waspadai perkembangan anak dengan memahami tahapan normal dari setiap area perkembangan. Area pertama yang sering diperhatikan dari para orang tua adalah area motorik kasar, dimana area ini berkaitan dengan segala aktifitas yang melibatkan otot-otot besar seperti quadricpes musce, triceps muscle, erctor spine muscle dll. Aktifitas fungsionalnya misalkan untuk mempertahankan batang tubuh, menegakan kepala, berdiri, berjalan, melempar suatu barang dll. Maka perlu sekali para orang tua mengerti pencapaian yang semestinya di gapai dari setiap bulan pertambahan usia anak mereka. Penting untuk diketahui bahwa setiap kemunduran pencapaian yang dialami anak maka anak tersebut akan megalami keterlambatan, pada kasus tertentu misalnya pada penyakit atau kelainan yang tidak terintervensi secara dini maka keterlambatan ini bisa menjadi keterbelakangan.

Perhatikan tahapan perkembangan motorik kasar dibawah ini:
1.       Usia 3 bulan anak sudah bisa melakukan kontrol kepala
2.       Usia 4-5 bulan anak sudah bisa berguling
3.       Usia 6 bulan anak sudah bisa duduk mandiri
4.       Usia 8 bulan anak sudah bisa merangkak
5.       Usia 10-11 bulan anak sudah bisa berdiri
6.       Usia 12 bulan kemampuan berdiri anak semakin baik dan mulai berjalan

Jika seorang anak usia 8 bulan namun belum bisa berguling, maka sudah sepatutnya orang tua memeriksakan anak mereka ke tenaga medis profesional seperti dokter atau dokter spesialis anak. Suatu keterlembatan dapat menandakan adanya suatu penyakit atau kelainan. Semakin dini penyakit atau kelainan tersebut terdiagnosis maka semakin dini pula intervensi yang bisa diberikan, hal ini penting karena akan mempengaruhi prognosis dari terapi yang diberikan. Hasilnya menjadi berbeda jika dua orang anak dengan diagnosis yang sama dan tingkat keparahan yang sama persis namun waktu dan kedisiplinan intervensi yang diberikan berbeda tentunya hasil yang dapat dicapai akan berbeda.

Selain tahapan perkembangan motorik kasar yang normal, diluar area ini masih banyak aspek yang perlu diperhatikan. Salah satu aspek yang dimaksud yaitu area perkembangan berbahasa. Kemampuan berbahasa pada manusia tidak sebatas pada setiap kata yang dilafalkan namun ada juga bentuk bahasa lain yang disebut dengan bahasa tubuh. Istilah umum yang biasa digunakan yaitu bahasa verbal dan bahasa non verbal.

Latar belakang pelafalan verbal tidak lepas dari adanya kegiatan oral motor. Supaya kemampuan berbahasa yang baik terbentuk maka oral motor juga harus terstimulasi. Tanda yang muncul sekaligus salah satu stimulus pada oral motor pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan yaitu adanya refleks hisap dan menelan saat menyusi. Bayi usia 3 bulan juga sudah bisa mengeluarkan suara “cooing” selain menangis. Tanda yang bisa diperhatikan untuk kemampuan bahasa non verbal yaitu diam atau tersenyum sebagai respon adanya suara serta menoleh kearah sumber suara. Jika bayi hingga usia 3 bulan tidak mengeluarkan tanda-tanda tersebut maka terdapat kemungkinan bayi tersebut memiliki suatu masalah dan sebaiknya orang tua segera memeriksakanya ke dokter.

Sumber :
-          Soetjiningsih. (2012) Tumbuh Kembang Anak. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
-     Kristiantini, D. (2018) Slide Milestone Tumbuh Kembang. Materi disajikan dalam Workshop Two Weeks Intensive Training On Children With Special Needs 23. The Learning Center. Bandung. 17-27 September 2018

Komentar